Showing posts with label mimpi tentang seorang Dewi. Show all posts
Showing posts with label mimpi tentang seorang Dewi. Show all posts

Friday, 10 June 2011

Mimpi tentang seorang Dewi... (part 4)

"Msh lama sampai Bandung?"
Pertanyaan-nya memecah kesunyian. Sesaat memang hening tadi, tanpa pembicaraan, hanya terdengar lagu lembut Dido yg mengiringi. Mgkn karena aku terlalu konsentrasi menyetir dengan kecepatan cukup tinggi, hingga kami diam sejenak. Berhati hati dan mencegah sesuatu hal buruk terjadi selama dalam perjalanan.

Ternyata Bandung!
Aku baru menyadari tujuan kami. Padahal baru bulan Maret lalu aku ke Bandung, menghadiri wisuda salah seorang saudara sepupuku. Mungkin karena terlalu singkat, hanya sehari, pergi pagi dan pulang malam, akibatnya memori tentang Bandung masih membekas di alam bawah sadarku, dan hasilnya.. hari ini Bandung kembali terbawa dalam mimpi.

Aku menatap selintas jalanan untuk memastikan apakah kami benar benar sedang menuju Bandung. Ada sebuah papan petunjuk arah. Tertulis, Bandung 60 km.
Aku memberitahu dan menengadahkan pandangan ke arah papan petunjuk tersebut, agar dia mengetahui. Aku kira dia bisa mengkonversi jarak menjadi waktu berdasarkan kecepatan, untuk menjawab sendiri pertanyaannya.

"Coba lihat deh,,jarak ke Bandung tinggal 60 km lagi. Dengan kecepatan kita sekitar 90 km/jam, berarti bisa di hitung kan berapa lama lagi kita akan sampai Bandung?"tanyaku kepadanya.

Dia kaget dan bingung. "Duh.. jgn disuruh hitung-hitungan donk. Otak gw ga nyampe klo masalah hitung-hitungan kaya' begini", jawabnya, dengan muka kesal dan memanjakan diri, minta dimaklumi.

Aku tak memberi jawaban apapun, lucu aja dan hanya tersenyum menahan tawa, kemudian memperlihatkan mimik menertawakan kepadanya.

Dia merasa begitu kalut, terjebak oleh pertanyaannya sendiri dan seolah sedang terpojok, terkuak kelemahannya. Akibatnya, dia tidak mau menyerah. Sepertinya dia tidak ingin terlihat lemah di hadapanku. Dia tetap berusaha menghitung dan menjawab. "40 menit lagi ya?"jawabnya.

Entah dapat angka darimana dia menjawab. Aku rasa angka dlm perhitungan sudah cukup bulat. Kelipatan tiga semua, baik itu jarak, kecepatan dan waktu dalam menit. Tidak terlalu sulit harusnya untuk menjawab. Apa benar dia seorang dewi? Karena dewi dalam bayanganku, tak seharusnya selemah ini.

"25 menit lagi ya?" dia terus gigih menjawab, dan mungkin dari tadi dikepala-nya berputar angka angka.

Aku malas untuk mengiyakan ataupun memberi jawaban. "Ya, sekitar itulah", jawabku, agar dia berhenti menghitung dan memuaskan dirinya. Tp dia msh terus menghitung.

"20 menit lagi!" jawabnya dengan percaya diri.

Ada kegigihan, ada keuletan, dan ada usaha. Aku menghargainya, setidaknya di akhir jawaban, entah apakah benar berdasarkan perhitungan atau hanya tebakan, dia berhasil menjawab dengan tepat.
Walaupun begitu, dia tak lagi terlihat sebagai dewi yg serba sempurna. Aku mulai mencoba memandangnya sebagai manusia biasa, yang wajar bila tak sempurna...

Tuesday, 31 May 2011

Mimpi tentang seorang Dewi... (part 3)

Perjalanan masih berlanjut. Sang dewi menoleh ke belakang, ke sisi tengah mobil.

"Upss..!", sadarku. Aku baru menyadari betapa berantakaannya sisi tengah mobil tersebut. Ada jaket yang tergeletak tak beraturan, sebagian masih berada di atas kursi, sedang sebagian lainnya sudah terjuntai menyentuh dasar lantai mobil. Ada juga sebuah novel tebal dengan posisi terbuka tp menelungkup dengan halaman yg terlipat-lipat, semakin menambah kesan tidak rapi. Kemudian ada keranjang kain berisi dua buah modul tebal yang merupakan materi training-ku sebulan lalu, tergeletak menyebar begitu saja, sehingga semakin memperunyam pandangan untuk mata. Dan ada sebuah tas kecil biru, yg memang selalu ku bawa kemana mana, yg makin mempersempit ruang yg sudah sempit dan pengap. Tak lupa sepasang sepatu, dengan kaos kaki yg menyembul keluar, semakin memperburuk keadaan dan memberi kesan kotor.

Sepertinya akan selalu ada benda-benda dalam dunia nyata yg ikut terbawa kedalam dunia mimpi seseorang. Jaket,novel,tas,sepatu,,,itu semua persis dengan apa yg kumiliki di dunia nyata. Sayangnya, peran mereka saat ini, malah kurang menguntungkan, pikirku..

Ingin rasanya aku menjentikkan jari dan mengucapkan "sim salabim" agar tiba tiba sisi tengah tersebut bersih dan rapi seketika, sekejap mata seperti cerita di negeri 1001 malam. Tapi ternyata mantra tersebut tak ampuh untuk mimpi kali ini. Hanya terlintas satu kata dari mulutku, "Gudang" ucapku. "Sisi tengah mobil tersebut memang sebagai gudang, agar gampang and simple, tidak perlu repot untuk mengatur barang. Bukankah di tiap rumah harus ada gudang? Nggak salah kan?"
Terlihat ekspresi tidak puas dari wajahnya. Dengan sedikit kecewa dan menghela nafas pendek, dia diam saja. Mungkin berusaha mencerna dan memahami, tapi tetap dengan prasangka tidak senang, dan sekali lagi, rona wajah kecewa yg sengaja ditampakkan nya. Andai benar aku supir pada peran mimpiku kali ini, mungkin rona wajah tersebut artinya dia siap siap akan memecatku...

Dia kemudian mengambil novel yg terlipat menelungkup tersebut, merapikan, dan menaruh ke pangkuannya. Tercetak "Sarjana Muda" pada cover novel tersebut. Dia mulai membuka halaman pertama, diam sejenak, agak kaget, kemudian dia berusaha menahan rasa suka cita..
"Pas tgl 6* Maret ya launchingnya?"tanyanya.
Aku tiba tiba ingat, di halaman pertama novel tersebut memang ada tulisan tangan "Launching Novel, Gramedia Matraman, 6* Maret 2011", beserta tanda tangan dua penulis novel tersebut.
"Iya,,," jawabku. "Pernah kenal dengan salah satu penulisnya, jd ketika launching, saya datang"
"Hoo..",balasnya. "Pas banget dengan hari -H gw ya" sambungnya, dengan sedikit malu dihiasi dengan senyum simpul menawan.
"Maksudmu? Dirimu Piscess?"tanyaku. Dia mengangguk. "Wah...sama ya, saya juga Piscess..."sambutku.
"Dua orang piscess adalah dua orang yg cocok ya? Cocok untuk saling memahami, saling berbagi, saling mengerti, dan saling bertukar pikiran. Pasti dua org Piscess bisa menjadi sahabat baik dan baik sekali, plus akrab dan intim. Tapi sayangnya, dua org piscess bukanlah pasangan yg ideal untuk saling melengkapi. Bukan pasangan ideal untuk berjalan beriringan, dalam satu ikatan. Dua orang Piscess,mgkn akan tetap menjadi dua orang. Tidak untuk bersatu dan menyatu"
"Masa?" tanya-nya...
"As far as i know, ya begitulah...."jawabku.

Aku menghela nafas dalam lamunanku. Kenyataan dalam mimpi. Kenyataan bahwa kami sama. Dan sama tak akan melengkapi. Sama hanya akan saling menggantikan. Sama tak akan saling mengisi. Sama malah bisa saling meniadakan. Sesama Piscess di mimpi kali ini hanya mempertegas bahwa mungkin benar, aku bukan peran utama dalam mimpiku kali ini. Mungkin, sekali lagi aku harus meyakinkan diri, bahwa aku hanya seorang supir. Dan tak mungkin berperan sebagai pangeran pendamping para Dewi...

"Ahh...Andaikan saja dirimu Libra.. seperti wanita itu...wanita yg tulisan tangan-nya baru saja kamu baca pada novel tersebut..." kenangku.
"Launching Novel, Gramedia Matraman, 6* Maret 2011"....

Wednesday, 25 May 2011

Mimpi tentang seorang Dewi... (part 2)


Sekarang kami sudah di dalam mobil, berdua. Sekarang cuaca sudah pagi. Hmm...agaknya dimensi waktu dalam mimpi tidak mengikuti kaidah waktu di dunia nyata. Baru saja berjumpa siang tadi, pagi ini kami sudah bersama lagi.

Aku duduk didepan, tepat di belakang kemudi memegang stir. Sang dewi duduk tenang di kursi sebelahku. Kita mulai perjalanan mimpi kita berdua ya, pikirku. "Kemana Bu?", tanyaku, seorang sopir.

Dia tidak memberi jawaban, tapi membalas dengan pertanyaan. "Ga ngantuk pagi gini?"

"Kalo ngantuk ya tidur..biarin aja mobilnya jalan sendiri..hehe" jawabku asal dan ngawur.

"Sayang gw ga bisa nyetir", balasnya seolah penuh penyesalan tapi dengan mimik menyimpan sindiran halus. Hmm,,,pantes. Memang ada hubungannya ya? Mana ada dalam sebuah cerita seorang dewi mengemudi, sementara seorang supir duduk santai menikmati pemandangan sambil sesekali membolak-balik novel bacaan.

Ya, aku coba menoleh sebentar mengintip apa yg dilakukannya. Satu exciting moment adalah saat melihat sabuk pengaman ternyata belum dikenakannya. Naluri seorang supir langsung menegur dan mengingatkan sambil melihat ke tempat persilangan sabuk di diagonal tubuhnya. Tapi naluri seorang pria menatap batas vertikal yg membelah dua sisi tubuhnya kiri dan kanan. Menatap bagian tubuhnya yg menyembul lebih tinggi. Bagian tubuh yg menyimpan sejuta pesona. Bagian tubuh dengan hawa kelembutan. Bagian tubuh yg mengekspresikan kematangan, sekaligus mengundang gairah kepuasan tanpa pernah memberi rasa puas dan terpuaskan. Itulah wanita. Dan itulah dia...seorang Dewi...

to be continued...

Sunday, 22 May 2011

Mimpi tentang seorang Dewi... (part 1)


Aku memanggilnya dewi. Aku tak tahu namanya. Aku tak tahu siapa dia. Aku tak tahu apa apa tentang-nya. Kita tak pernah tahu persis siapa yang kita temui saat kita bermimpi.

Tiba-tiba saja aku terbangun siang itu. Aku mengenal daerah ini sebagai Cawang, tempat perlintasan bus antar kota menuju terminal Kampung Rambutan. Aku berada dalam sebuah mobil Avanza silver yang entah milik siapa.
Handphone di kantung jaket ku bergetar menandakan ada sms yg masuk:"Dmana? Gw dah di jembatan halte UKI".

Aku dalam kebingungan, mencoba bereaksi. Segera keluar dari mobil dan menuju jembatan penyeberangan di depanku. Tak ada siapa siapa.

"Gw di halte bis UKI". Inbox sms-ku kembali menampilkan tulisan dari nomor yg sama.

Spontan ku hubungi nomor tersebut sambil menuruni tangga menuju halte. Aku mendengar suara seorang wanita di ujung telepon sana. Dan semakin mendekati halte, ku lihat seorang gadis cantik,manis rupawan, sembari menelpon juga memandang ke arahku. Kumatikan handphone karena ku yakin gadis itulah yang akan ku temui.

"Dewi ya?" ucapku spontan menyebut sebuah kata, yang mungkin sebuah nama. Dia mengangguk. Dia memang dewi pikirku saat itu. Karena dia terlalu indah. Dan mungkin, aku hanya sopirnya...